Diary Ibu Hamil #2 Kehamilan Trimester Pertama

diary ibu hamil

Satu bulan setelah tahu bahwa aku hamil, meski belum terlihat janin di kantong rahim, kondisi tubuhku mulai berubah. Entah karena pengaruh alam bawah sadar atau memang tubuh fisikku yang kaget. Sebenarnya bukan hanya fisik yang kaget, tapi psikis juga. Rasanya seperti belum siap. Yap beginilah manusia, berdoa meminta sesuatu tanpa menyiapkan diri. Yaaaa jadi menyalahkan diri sendiri. 

Aku mulai banyak membaca referensi tentang Ibu hamil di trimester pertama. Tanda-tanda hamil, kondisi Ibu hamil dari minggu ke minggu. Mencari kalkulator di internet untuk menghitung usia janin. Termasuk membeli buku Bidan Yessie yang berjudul Gentle Birth dan Prenetal Yoga Gentle Birth. Setelah priksa kedua, janin sudah terlihat di tumbuh di dalam kantong rahim. Dari situlah penyesuaian perubahan fisik dan psikisku semakin berat. Sehingga aku memutuskan untuk mengambil cuti dari kantor. 

Dari fisik yang membuatku lemas, mual, muntah, pusing, seperti mabuk perjalanan, kemudian diikuti psikisku yang sering sedih meratpi perubahan situasi. Aku yang bukan seperti dulu lagi. Tidak bisa kemana-mana sendiri. Tidak bisa makan makanan yang aku suka seperti ayam geprek contohnya. Kemudian, setiap kali makan tidak lama setelah selesai makan sering keluar lagi alias muntah. Kehamilan trimester pertama ini menurutku cukup berat. Aku mulai merasa iri dengan para Ibu yang tidak mengalami hal sepertiku ketika di trimester pertamanya.

Tiap malam, susah tidur. Dan ketika bangun tengah malam... mulai menangis bersedih... kenapa kenapa.. begitulah adanya... kondisi yang seharusnya bisa aku terima supaya tidak semakin merasa menderita. Kata pepatah, yang membuat kita sakit, sedih, menderita adalah rasa penolakan kita terhadap situasi yang ada. Yaaaa begitulah... pelan-pelan aku harus bisa menerima kondisi ini. Sungguh hanya bisa di rumah saja tidak bisa kemana-mana. Bahkan, naik motor dibonceng saja, aku merasa tidak kuat. Benar-benar seperti mabuk perjalanan. Apalagi di trimester pertama pun, suami bekerja di luar kota. Jadi semakin menjadi-jadi melownya.

Akan tetapi ketika membayangkan aku akan mempunyai buah hati rasanya kondisi itu terobati. Apalagi kalau sudah USG melihat perkembangan janin dalam rahim. Ya Allah sungguh bersyukur sekali. Tiap kali sedih karena melow melanda, aku buka lagi foto usg yang ada. Bahagia melihatnya. Tidak menyangka sedang ada buah hati yang sedang tumbuh di dalam perutku. Maha Besar Tuhan yang menciptakan manusia dengan detail dan sempurna.

Yang mengalami kondisi mabuk ketika trimester pertama, bukan hanya aku saja. Ada banyak yang lain juga yang merasakan. Semua harus dijalani sesuai jalannya masing-masing. Pasti ada pembelajaran yang aku dapatkan dalam menjalani kehamilan trimester pertama ini. Aku jadi bisa merasakan Ibuku dulu mengandungku, yang masih tetap bekerja dalam keadaan hamil. Karena Ibuku adalah seorang Guru yang harus tetap mengajar. Dulu Ibu pernah cerita kalau dulu ketika Beliau hamil, pagi-pagi disaat mual-mualnya dia tetap harus berangkat dan tidak boleh telat mengajar murid-muridnya. Kalau telat akan dimarahin oleh atasannya. Betapa lebih berart perjuangan Ibuku dibandingkan aku saat ini. Dia yang hamil muda tetap harus bekerja dan tidak didampingi oleh suami karena Long Distance Merried dengan Bapak. Betapa kuatnya Ibuku tercinta.

Maaf Bu, aku yang sempat marah pada Ibu atas kondisi yang telah lalu yang tidak bisa aku terima.

Share:

No comments:

Post a Comment