Kemelakatan menimbulkan penderitaan


Dalam agama telah disebutkan, bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Bukan sekedear berlebihan terhadap makanan, barang ataupun lainnya. Tapi termasuk berlebihan soal rasa. Berlebihan memiliki rasa terhadap seseorang, terhadap suatu moment, dan berlebihan atas ilmu pengetahuan termasuk ke agama itu sendiri (fanatik).

Berlebihan di sini, hampir sama dengan kemelekatan, dan kemelekatan itu menimbulkan penderitaan atau  kepedihan. Saking melekatnya seperti duri yang sudah menancap pada tubuh, dan tancapan itu semakin lama tidak terasa bahkan bisa menjadi terasa nikmat. Tancapan duri tersebut akan terasa sakit atau pedih  jika duri itu perlahan-lahan kita cabut. Menangis, berdarah-darah hingga sesak di dada.

Lalu bagaimana untuk bisa tidak melekat?

Ini adalah perjalanan yang sedang aku lalui untuk tidak melekat kepada semua hal. Termasuk ke orang yang aku cintai, keluarga, pekerjaan, bahkan melekat kepada spiritual. Spiritual yang mengajarkan untuk tidak melekat pun bisa membuat kita melekat padanya. Mungkin kuncinya adalah sadar, dan olah rasa. Ketika kita sudah mulai menyadari mendekati sesuatu dengan berlebihan, kita harus mulai mengolah rasa.

Coba bayangkan, ketika kita sudah melekat dengan pekerjaan. Fokus dan terpusat dengan bekerja, kita akan merasa aneh dan bersalah ketika kita tidak bekerja atau santai beristirahat sejenak. Seperti ada yang kurang, karena terbiasa bekerja bagai kuda. Dan ketika target tidak tercapai, kita akan kecewa dan bisa berlanjut pada menjadi putus aja. 

Coba bayangkan ketika kita sudah melekat pada seseorang. Fokus dan terpusat kepada orang yang kita cintai. Kebahagiaan kita menjadi tergantung pada si dia. Bagaimana nanti jika kita kita harus kehilangan mereka, atau bahkan tiba-tiba kita tahu kalau mereka ternyata menghianati kita? Seperti yang aku bilang di atas, rasanya seperti duri yang sudah tertancap kemudian dicabut dengan paksa... menjerit hati dan mulut ini. Sesak dan sakit kan? pedih...

Coba bayangkan, ketika kita sudah fanatik kepada agama atau dogma, kita akan mudah menyalah-nyalahkan dan membenci orang lain karena pemahaman orang lain tersebut tidak sama dengan kita. Tidak hanya orang yang berlainan agama dengan kita, bahkan yang satu agama saja bisa dianggap salah.  Kemudian menyalahkan karena kita merasa paling benar, serta merasa paling sadar.

Bukannya sadar adalah, sadar dan paham bahwa semua yang terjadi itu sudah sempurna sesuai dan selaras dengan semesta. Kesadaran ini dibutuhkan olah rasa dan perlu latihan yang keras untuk bisa sampai pada tahap ini. Jujur, pada sampai saat ini akupun masih bisa membenci orang lain dan selalu mencari pembelaan atas kebencianku pada orang lain. 

Pada Intinya, ayok kita belajar untuk tidak melekat pada semua hal yang ada di dunia ini, termasuk melekat pada masa lalu dan masa depan yang menimbulkan pedihnya penyesalan dan sakitnya kekhawatiran. 

Share:

No comments:

Post a Comment