Sebuah cerita tidak selalu berakhir bahagia

form pinterest

Aku adalah tipe manusia yang selalu berfikir positif. Aku hidup berdasarkan janji manis dokma-dokma. Bukan ketulusan bahwa aku memang ingin melakukannya dari hati. Bisa dibilang aku berekspektasi mendapatkan pahala dalam melakukan sesuatu dan tentunya takut mendapatkan hukuman.

Aku bukan berangkat dari keluarga yang agamis, tapi dokma tersebut juga ternyata sangat melekat. Belum lagi buku-buku motivasi yang aku baca, membuatku menjadi keras terhadap diri sendiri. Ditambah sosok yang sangat berperan terhadap terbentuknya diriku. Ya ibuku.. membuat aku menjadi seorang yang perkasa tapi ternyata lemah di dalam. Aku melihat hidup ini begitu keras, sehingga aku menjadikan diriku lebih keras dari kehidupan. 

Waktu itu, setelah aku mengalami kegagalan. Dengan kondisi diriku yang sangat keras terhadap diri sendiri, membuatku syok berat ketika menghadapi kegagalan. Aku merubah diriku menjadi diri orang lain. Menjadi aku yang bukan diriku. Dan ternyata aku baru sadar itu membuatku menjadi terkungkung. Tapi dengan janji manisnya, aku tetap menjalaninya dengan berharap dan berekspektasi.

Waktu berjalan dan hal itu terulang lagi, kegagalan datang lagi. Lalu aku bertanya.. "Apa salahku? Aku kurang apa lagi? Apa yang salah pada diriku?" dan itu membuatku semakin keras terhadap diriku. Membuatku semakin membenci diriku, membuatku semakin ingin lari dari kenyataan, membuatku menjadi seorang pengecut yang bersembunyi di kamar dengan tangisan sepanjang hari. Tidak ada lagi yang bisa aku salahkan kecuali diriku sendiri. Sempat ingin mengakhiri hidup ini. Sungguh pengecut karena tidak ada apa-apa lagi yang ingin aku lakukan. Sunyi tak ada lagi dan kosong tak berbunyi lagi. Seperti putus asa.... dan tak ada yang bisa menyembuhkan selain kesadaran diriku sendiri. Yang lain hanya bisa membantuku untuk membuka mata dan hati.

Aku yang selalu berdoa, berharap perasaan membenci diri ini segera berakhir, dan bisa memulai cerita baru lagi. Sesak, hal itupun tak kunjung datang. Lalu pertanyaan-pertanyaan semakin bermunculan termasuk "kenapa ini terulang lagi?" dan aku merasa ini menjadi seperti titik terendah diriku. akhirnya pertanyaan itu membuat diriku mencari hal yang masih belum beres pada diriku. Luka-luka yang tanpa sadar telah mengendap di alam bawah sadar. Pola-pola kehidupan sepanjang hidup mulai aku gali. Dan tanpa sadar itu membuatku menjadi diriku yang sekarang ini, termasuk kegagalan yang terulang lagi.

Akhirnya aku menerima, bahwa cerita yang aku harapkan bisa berakhir bahagia, ternyata tidak. Tapi berkahir "awesome". Karena kegagalan ini adalah trigger untukku membuka lembaran catatan kehidupan yang sudah usang tersimpan di buku kehidupan yang lalu. Luka yang diciptakan dalam kegagalan kali ini membuatku belajar hal yang memang harus aku pelajari. Self Love dan menjadi diriku sendiri yang utuh tanpa luka-luka yang lalu. Meski belum sepenuhnya, tapi aku menghargai proses penyembuhanku.

Share:

No comments:

Post a Comment