Bukan Kagum, tapi perasaan bahagia dan bersyukur

Tidak terasa sudah sebulan lebih aku resmi menjadi istri. Awal awal bulan rasanya masih seperti mimpi, apakah ini benar?  Aku sudah menjadi seorang istri? tinggal bareng bersama mertua? Ketika tidur di sebalahnya ada seseorang yg menemani? tinggal di lingkungan dan kebiasaan baru? Dan tentunya banyak hal yang baru. Termasuk masih malu malu di depan suami kalau memakai pakaian terbuka. 

Kami menikah secara resmi KUA memang tanggal 27 Februari 2021. Tapi kami dipaksa oleh semesta untuk menikah lebih awal yaitu pada tanggal 11 Februari 2021 sehari setelah Bapak meninggal dan sebelum Jasad Bapak dikebumikan. Dan Akad tepat di depan jasad Bapak. Campur aduk rasanya, tidak bisa dideskripsikan apa yang aku rasakan. Sedihkah atau bahagiakah... Hal ini tidak pernah terbayangkan ataupun dikasih tanda lewat mimpi. Semuanya berjalan tanpa aba-aba dan selancar jalan tol, seperti mimpi. Babibu. 

Kami kenal belum lama, tapi rasanya seperti sudah lama sekali. Hubungan kami lancar. Flexible tanpa ada hal yang memberatkan. Tidak ada tuntutan, berjalan apa adanya. Mungkin karena Dia tipe orang yang slow mengikuti aliran air. Dan aku? Alhamdulillah sudah sedikit bisa mengikuti kemana arah angin. Membiarkan semesta yang bekerja. Sedangkan kami, melakukan hal sebaik mungkin yang kami bisa. Kami tidak saling menuntut, itu yang membuat kami belum pernah bertengkar sampai saat ini. Dari pertama kenal hingga 2 bulan setelah kami menikah. Kata orang, kami masih anget angetnya. 

Semakin saya mengenalnya, mengenal keluarganya, mengenal saudara-saudara lainnya, muncul perasaan yang membuncah. Entah kenapa, bukan lagi perasaan cinta ingin memiliki dan posesif. Tapi bahagia karena merasa bersyukur. Bersyukur aku bisa ada di titik sekarang ini. Bersama suami dan keluarganya yang sederhana tapi hangat. Apalagi aku dari keluarga yang tidak utuh. Dari kecil tanpa ada dampingan ayah. Kemudian dari kecil, aku dan kakak adekku sudah pisah pisah. Kakak sempat ikut bapak, adek sempat ikut Simbah. Kemudian tinggal jauh karena sekolah. Sedangkan keluarga Dia, berkumpul di rumah dan akur. 

Dia tidak otoriter dan tidak terlalu suka mengatur. Kami saling menghormati urusan, kesibukan dan keputusan masing-masing. Saling support apa yang dijalani masing-masing. Saling memberi kebebasan berekspresi. Saling menerima kekurangan masing masing dan mendukung untuk bertumbuh, tanpa ada tuntutan, kekangan dan superioritas. Semua terasa mudah dijalani. Tuhan, terimakasih. 

Tidak ada orang yang tepat sampai kita bisa menempatkan diri dengan bersahabat dengan ego kita. perjalanan panjang yang kita alami masing2 ternyata bekal untuk kita bisa saling berharmonisasi. 

 Thank you.. I am grateful for this. Mungkin ini yang namanya cinta orang dewasa. Bukan lagi kagum, tapi bersyukur atas apa yang ada. 


 


Share:

No comments:

Post a Comment