Terkadang kita hanya perlu melambat

 

from pinterest

Halo Dear...

Apa kabar? jangan lupa tanyakan kabar dirimu hari ini. hehehe semoga kita masih selalu waras alias sadar. Pasti semua orang pernah terbesit pertanyaan untuk apa hidup ini? Apa makna hidup ini? Apa tujuan hidup ini?. Dan pertanyaan itu muncul ketika kita sedang menyadari bahwa kita ada pada titik jenuh. Dan tidak lagi mencari pelarian kebahagiaan lagi. Karena ternyata pelarian-pelarian itupun tidak bertahan lama dan mengembalikan kita pada titik jenuh tersebut.

Beberapa hari ini, fikiran dan perasaan sangat kacau. Sampai-sampai sudah tidak tahu lagi mau melakukan apa. Pertanyaan itu muncul lagi, sebenarnya untuk apa hidup ini. Tentunya seperti apa yang aku sampaikan pada tulisan-tulisanku sebelumnya, hidup ini adalah sekolah. Tujuan hidup ini adalah untuk mendewasakan jiwa kita dengan pembelajaran-pembelajaran hidup yang sedang kita hadapi dan alami. Tapi ternyata tidak semudah itu dear untuk tetap dalam kewarasan itu. Perasaan dan fikiran kita suka meracau. Kita harus pintar menyadari racauan dari perasaan dan fikiran kita.

Pagi itu, aku membiarkan kuda besiku melaju pelan, kunikmati pemandangan kanan kiri depan. Kunikmati suara racauan perasaan dan fikiran dengan kusimak baik-baik mereka. Ku biarkan, aku disalip yang lain. Ku biarkan lampu kuning yang biasanya aku terjang menjadi lampu merah. Aku biarkan semuanya berjalan semestinya. Tidak perduli waktu yang liner dan katanya ilusi. Aku tidak lagu terburu buru ingin cepat sampai kantor dan tentunya tidak perduli jika aku terlambat masuk kantor.

Dalam perjalanan itu, perasaan dan fikiran memberikan kesadaran-kesadaran baru tentang hidup ini. Perasaan memberikan perasaan bersyukur ketika aku melihat sesuatu menjadi apa adanya. Fikiran memberikan ide-ide cemerlang yang susah aku dapatkan ketika ada di depan laptop. Sayang, aku tidak bisa mengabadikan ide-ide itu dalam tulisan, tentunya karena aku sedang mengendarai motor. Tidak lagi dibonceng...

Kemudian di hari yang berbeda, aku lebih melambat lagi. Bersepeda, melihat lalu lalang kendaran mereka yang lebih cepat, bahkan terkesan terburu-buru untuk sampai tujuan. Bersepedaku kali ini juga memiliki tempat tujuan, seperti mereka tentunya, tapi aku nggak perduli standar waktu yang harus dicapai untuk sampai di tempat tujuan tersebut. Aku menjadi diriku, tanpa mengikuti standar hidup orang lain.

Lagi-lagi, ketika aku melambat, aku bisa lebih sadar melihat semua dengan apa adanya. Melihat porsi masing-masing, melihat kondisi masing-masing, melihat pemandangan berbeda, merasakan syukur apa adanya. Ya.. ternyata kita hanya perlu melambat untuk sadar hidup dan tidak lagi dikuasi fikiran serta perasaan yang dipenuhi ego semata. 

Dear, semoga kita semua berbahagia ya menjalani peran masing-masing.. Amin.


Share:

No comments:

Post a Comment