Move in dulu baru Move on
![]() |
| from pinterest |
Banyak orang yang menyalahkan pasangannya ketika diselingkuhi atau selingkuh. Ah ya jelaslah.. pastinya, karena mereka sudah pasti salah karena sudah menyalah gunakan kepercayaan. Kenapa nggak bilang aja ingin putus daripada selingkuh dan menyalahkan pasangannya yang tidak bisa memberi kebahagiaan. Harusnya kan bilang aja ingin putus. Karena itu menimbulkan luka dan trauma yang susah untuk disembuhkan. Sedangkan mereka, dengan enak lenggang kangung dengan selingkuhannya.
Baiklah,.. menyalahkan pasangan kita yang selingkuh tidak akan ada habisnya, dan juga tidak akan membuat kita sembuh. Seperti halnya pengalaman yang aku alami, ketika aku terus-terusaan merasakan betapa sakitnya, aku tidak akan sembuh-semnuh. Lalu apa yang aku lakukan?
Setelah berhari-hari tidak makan, bermalam-malam hanya diisi tangisan. Akupun bertanya kenapa, apa benar yang dia katakan? Aku tidak bisa membahagiakan dia, aku adalah beban untuknya, Aku tidak bisa menyenangkan dia, aku tidak cukup baik untuknya. Dan kemudian, aku terus membela diri, apakah tidak cukup pengorbanan waktu, tenaga, dan material selama ini sehingga dia tega menusukku dari belakang?
Aku menjadi overthingking dan sesak napas memikirkan serta merasakannya. Baiklah... sudah dua kali aku diselingkuhi oleh pasangan. Berarti ada yang salah padaku. Karena ini pola yang berulang. Kemudian aku mulai healing. Mencari profesional, karena aku ingin sembuh....
Dari psikiater di Puskesmas, artikel-artikel di internet, video di youtube, Hypnoterapi dan Guru Spiritual di kelas online. Pelan-pelan akhirnya aku mengetahui bahwa aku punya luka batin atau trauma yang masih tersimpan di ingatan. Dan itu mengendalikan serta mempengaruhi mindset/ fikiranku hingga saat ini.
Aku berasal dari disfungsional family, peran ayah digantikan oleh Ibu. Ayah meninggalkan ibu beserta kami anak-anaknya. Sehingga trauma dan ketakutan itu tersimpan di memori bawah sadarku, takut akan ditinggal pasangan, takut diselingkuhi pasangan, seperti ayahku yang memperlakukan ibu seperti itu. Dan aku melihat ibu mencari nafkah begitu keras pagi, sore, malam untuk menafkahi anak-anaknya. Aku pun menjadi workholic karena aku tidak ingin kekurangan seperti waktu aku kecil kekurangan.
Satu demi satu... memori-memori yang terekam dan masih mengendap bersembunyi di lorong gelap itu muncul. Muncul untuk disadari, dimengerti dan diyakinkan, bahwa aku memiliki otoritas atas hidupku. Yang lalu bukanlah aku yang sekarang.
Ketika kita sudah benar-benar move in, mengenali diri kita.. kita tahu harus bagaimana dengan mindset yang baru.. barulah kita akan bisa move on.. meski tidak bisa secapat itu.. masih ada kesedihan-kesedihan yang tertinggal ketika mengingat harapan itu tidak terwujud seperti yang diinginkan. Kini kita serahkan waktu dan kesadaran yang akan menyembuhkan.

No comments:
Post a Comment